Memuji Kemerdekaan dan Merampas Kemerdekaan

|

Soewardi Soerjaningrat

Dulu saya diminta membuat “surat perlawanan”; bodoh sekali, sudah saya buatkan; bukankah wajibnya pengadilan harus menerangkan yang saya memang betul melanggar wet? Justitie telah melarang pada saya, akan menulis karangan lagi, yangd apat membangunkan nafsu bahaya orang, akan teapi larangan yang demikian itu sukar diterimannya, karena tiada sekali saja hendak memberontakkan bangsa saya, biar dulu biar sekarang.

Nyatakanlah lebih dulu, bila saya memberontakkan bangsa saya, lalu hukumlah saya!

Sudahlah, saya hendak menulis lagi tentang pesta kemerdekaan negeri Belanda, yang akan diadakan di tanah-air saya yang tidak merdeka. Betul? Betulkah pesta itu akan diteruskan, sesudahnya beberapa Indiers membikin pengaduan tentang perayaan yang semacam itu?

Sungguhpun saya telah tahu, bahwa anak negeri sekarang tak diharuskan lagi turut membayar ongkosnya pesta, dan barangsiapa sudah memberi uang maka haruslah dikembalikan pula uangnya dengan sembunian, tetapi  hendaklah saya menanyakan, tiada berasakah orang-orang yang hendak bersukaria itu, bila tidak harus lagi meneruskan pestanya, sesudahnya ada beberapa halangan tentang perkara itu?

Sungguh orang-orang itu akan ngeri di belakang lehernya dan gatal di kupingnya, kalau nanti mereka itu bersuka-suka minum-keselamatan, dan beberapa dari mereka itu akan merah seperti kalkun, di dalam pesta – karena ada malu – lagi pula ada beberapa akan tinggal di rumahnya sebab takut bom atau senjata lain-lainnya yang sebetulnya cuma ada dalam pikirannya sendiri saja karena permainan semua itu akan diadakan dimedan orang banyak dan dimuka Indiers juga, yang sudah dibikin sakit hatinya. Maka itu tidakah lebih baik serta membuang segala khawatir, dikalau permainan pesta kemerdekaan tadi dihapuskan sama sekali?

Orang sudah dengar suaranya Komite Boemipoetra yang sekarang sudah dibunuh’ itulah suara pahit untuk orang-orang yang hendak berpesta. Apakah kiranya orang hendak sengaja mendengar pula suara yang tidak enak itu? Orang tahu, bahwa walaupun sekalian lid-lid Komite Boemipoetra telah dihilangkan kekuatannya, masih beribu-ribu Indiers yang tinggal tetap bersatu maksud, serta mereka ini sudah menunjukan tiada terimanya akan putusan pemerintah hal yang tersebut tadi. Inilah sungguh suatu tanda buat kami, bila tiada seorang dari Indiers tadi akan turut bersukaria dalam perayaan negeri adanya. Maka suara pengaduan tadi melainkan mendengar dari Indiers berdarah campur, akan tetapi juga dari Indiers teras yang sebagian besar, yakni dari Boemipoetra, yang sudah membribia pada istri-istri Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusum dan penulis ini, sehingga istri-istri itu dapat menghantarkan laki-lakinya dalam keliling dunia seperti orang-orang buangan.

Ketika dimana-mana tempat di tanah Jawa diadakan komisi pesta, yang di satu dua tempat minta derma juga dari penduduk boemi poetra, dan ketika Komisi Boemipoetra membikin pengaduan hal ini, maka kaum pelawan kita berkata, bahwa anak negeri tidak akan mengerti tentang perayaan dalam bulan November itu. Jikalau tiada diterangkan padanya oleh Komite Boemipoetra. Ha, menjadi kami disalahkan, sebab kami sduah menerangkan pada saudara-saudara boemipoetra, apakah maksudnya pemberian derma itu, yang telah diterima oleh ambternaar-ambtenaar bestuur. Orang-orang (dari bangsa kita) nyatalah tak boleh berpengetahuan dan jagalah betul-betul barang siapa berani menambahkan pengatahuan pada orang-orang itu. Pendapatan yang aneh sekali ini, juga dinyatakan oleh officier van Justitie yang berkata bahwa karangan saya yang beralamat: “Jika Saya Nederlander…” tidak akan melantarkan tuntutan justitie apa lagi hukuman-buang, jikalau karangan itu tiada ditulis dalam bahasa Melayu juga.

Adapaun pembuangan tiga orang Indiers, yang ada beberapa saudara dalam bagi-bagiannya penduduk Hindia, telah membuat ramai sekalil. Dengan tiada disengaja maka Pemerintah sudah menyiarkan maksud Komite Boemipoetra, lantaran sudah mengeluarkan tiga orang Indiers dari tanah kelahirannya. Maka dari sebab itu juga sekarang dimana-mana membicarakan pasal pesta di bulan November yang akan datang, dan bila hukuman-buang kami diomongkan, lalulah orang mengeluarkan perkataan yang tidak manus untuk komisi-komisi pesta dan juga untuk kemerdekaan Belanda, yang menunjukan tabiatnya semacam itu.

Beberapa tangan sudah bersalaman dengan tangan kami, ialah suatu tanda setujunya dari maksud kami, dan jikalau saya sebutkan, bahwa dari pada tangan-tangan itu ada banyak yang berkulit putih, nyatalah sekarang, bila kaum perlawan kami kurang di setujuinya.

Sekarang sudah bulan September, haruslah kita bekerja keras dan lekas, supaya diantero tempat orang-orang jangan turut berpesta dibulan November. Walaupun kita sudah percaya, yang kaum Hindia, yakni orang-orang Indiers tidak akan ikut beramai-ramai, maka juga harus kita berdaya-upaya, mudah-mudahan perayaan itu sama sekali dapat dihapuskan, karena hal itu menghinakan pada kita.

Hai, saudara-saudara bangsa kita di Timur, yang jauh berdaya-upayalah! Tiada harus perayaan kemerdekaan itu diteruskan, janganlah kamu sekalian suka diludahi di muka kamu! Segala perbuatan dalam perayaan nanti akan membikin sakit hatimu, akan menghinakan pada kamu sekalian, ya, akan menunjukan, yang orang tiada mau tahu pada kamu semua tentang hak-kebangsaan. Jikalau nanti di bulan November bendera tiga-warna berkibar-kibar, itulah akan mengingatkan, bila kamu tiada mempunyai bendera sendiri, yang dapat berkibar dengan mulia di sebelah bendera Belanda tadi. Jikalau nantikamu dengar lagu-lagu bangsa, itulah menyatakan, bila kamu tiada ada lagu-lagu bangsa sendiri, yang harus dinyanyikan juga oleh bangsa asing, yang berduduk di tanah-air kamu dan bersuka-suka disitu. Jikalau nanti orang-orang yang berpesta, minum dan berpidato atas keselamatannya pembesar-pembesar nanti kamu akan mengerti, bahwa kamu tiada ada pembesar-pembesar sendiri, yang pantas kamu beri keselamatan dan kemuliaan. Lagi pula untuk kamu mendengarkan lagu-bangsa “Wien Neederlands bloed”, yang seolah-olah menjauhkan kamu sekalian dari bangsa yang terbilang tiada berdarah campur?

Bolehkah perayaan November diteruskan?

Tidak, bilanglah tidak, hai, Indiers! Dan kalau-kalau suara kamu tiada didengarkan, karena kita tak mempunyai hak akan turut-turut dala pembicaraan negeri kita, ya, kalau begitu…

Ah, jangan, lebih baik kamu menyebutkan syukur, yang kamu sudah melawan penghinaan pada didimu. Tinggalah dirumahmu sendnrii nanti dalam perayaan yang akan datang itu, tarohlah menyan dan kembang di kamar-kamarmu, sujudlah di muka Tuhan, karena hanya Tuhanmu yang suka mendengar suara hatimu, dan yang akan memberi keadilan padamu sekalian.

Dan tunggulan! Waktu pesta kita akan datang juga. Ayolah kita mohonkan dari Tuhan, yang waktu itu lekas datang. ©

                                                                   Soewardi Soerjaningrat

                   Golfvan Bagelen di Kapal “Bulow” 14 September 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *